এখন থেকে আমরা Elev8

আমরা শুধুমাত্র একটি ব্রোকার নই। আমরা একটি সর্বাত্মক ট্রেডিং ইকোসিস্টেম—বিশ্লেষণ, ট্রেড, এবং প্রবৃদ্ধির জন্য আপনার যা কিছু প্রয়োজন তা এক জায়গায়। আপনার ট্রেডিং উন্নত করতে প্রস্তুত?

USD/IDR: Rupiah Capai Level di Atas 17.300 di Tengah Lonjakan Minyak, Risiko Hormuz, dan Sikap Defensif BI

  • Rupiah melemah ke kisaran 17.292-17.310 per dolar AS, menandakan tekanan masih bertahan dan permintaan terhadap dolar AS belum surut.
  • Lonjakan harga energi memperbesar kekhawatiran inflasi dan menahan ruang pelonggaran kebijakan.
  • BI menahan suku bunga dan pertumbuhan M2 naik 9,7%, membentuk kombinasi sikap defensif bank sentral dan likuiditas yang lebih longgar terhadap Rupiah.

Rupiah masih berada dalam tekanan terhadap dolar AS. Berdasarkan tangkapan layar perdagangan terbaru, kurs mata uang Indonesia ini tercatat di 17.292 per dolar AS, anjlok 135 poin atau sekitar 0,79%. Angka ini selaras dengan data Bloomberg yang menempatkan pasangan mata uang USD/IDR di 17.304 per 23 April. Bloomberg juga melaporkan Rupiah sempat melemah hingga 0,8% ke 17.310 per dolar AS, menegaskan bahwa kurs masih bertahan di area yang rapuh dan pasar belum sepenuhnya mengurangi kebutuhan terhadap aset safe haven dolar AS.

Tekanan terhadap Rupiah terutama datang dari lonjakan harga minyak dan memburuknya sentimen global akibat konflik Timur Tengah. Harga kontrak berjangka Brent tercatat di USD101,91 per barel dan WTI di USD94,22 per barel saat berita ini ditulis, sementara pemerintah melalui dokumen ESDM menetapkan Indonesian Crude Price (ICP) Maret di USD102,26 per barel. Selain lonjakan harga minyak mentah, kenaikan harga LPG global juga berpotensi menekan Rupiah karena memperbesar tagihan impor energi Indonesia, menambah kebutuhan dolar, dan berisiko memperlebar beban subsidi energi bila tekanan harga bertahan. Kenaikan harga energi ini memperbesar kekhawatiran inflasi, mendorong arus keluar modal, dan mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter.

Tensi Timur Tengah Bertahan Tinggi, Gangguan Hormuz Menjaga Risiko Energi

Dari sisi geopolitik, perang masih berlangsung tegang tanpa tanda mereda secara jelas. Perpanjangan gencatan senjata oleh Presiden AS Donald Trump belum menghasilkan kemajuan berarti karena Iran belum menyetujuinya dan tetap menuntut pencabutan blokade laut AS sebagai syarat menuju gencatan senjata penuh. Fokus utama kini tertuju ke Selat Hormuz, tempat Iran memperketat kontrol dan menyita dua kapal kargo, sementara gangguan pelayaran terus berlangsung dan menjaga jalur energi global tetap terganggu.

BI Bertahan Defensif, Rupiah Masih Rapuh di Tengah Tekanan Minyak dan Geopolitik

Di dalam negeri, Bank Indonesia dalam RDG 21-22 April 2026 memutuskan mempertahankan BI-Rate di 4,75%, Deposit Facility 3,75%, dan Lending Facility 5,50%. BI menegaskan keputusan itu diarahkan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah memburuknya kondisi global akibat konflik Timur Tengah. Sikap bank sentral saat ini terbaca defensif, dengan fokus besar pada kestabilan Rupiah dan risiko inflasi yang dapat meningkat bila harga energi bertahan tinggi.

Untuk jangka sangat pendek, arah Rupiah masih cenderung rapuh. Pasar tampaknya belum melihat ruang lega yang besar selama harga minyak tetap tinggi, tensi geopolitik belum surut, dan arus asing belum kembali stabil. Dengan latar seperti ini, perhatian investor masih tertuju pada pergerakan minyak, dinamika konflik di Timur Tengah, serta intensitas intervensi Bank Indonesia.

Likuiditas Meningkat, Ruang Tekan Rupiah Bertambah

Sementara itu, data terbaru BI menunjukkan likuiditas perekonomian Indonesia meningkat pada Maret 2026, dengan uang beredar luas (M2) tumbuh 9,7% secara tahunan menjadi Rp10.355,1 triliun, lebih tinggi dari 8,7% pada Februari. Perkembangan tersebut terbentuk dari pertumbuhan M1 sebesar 14,4%, uang kuasi 5,2%, serta dorongan dari tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat yang melonjak 39,2% dan kredit yang tetap tumbuh 8,9%.

Peningkatan M2 ini memberi sinyal bahwa likuiditas domestik kian longgar. Bagi Rupiah, kondisi tersebut dapat menambah tekanan karena pasar bisa membacanya sebagai bertambahnya pasokan uang di tengah sentimen eksternal yang masih rentan. Meski begitu, pertumbuhan kredit yang tetap stabil membantu menahan kekhawatiran bahwa pelonggaran likuiditas mencerminkan perlambatan ekonomi yang lebih dalam. Jadi, tekanan terhadap Rupiah saat ini terbentuk dari kombinasi faktor eksternal yang berat dan kondisi domestik yang memberi ruang likuiditas lebih longgar, ketika pasar masih berhati-hati menilai arah berikutnya.

Pertanyaan Umum Seputar Minyak Mentah Brent

Minyak Mentah Brent adalah jenis minyak mentah yang ditemukan di Laut Utara yang digunakan sebagai patokan untuk harga minyak internasional. Minyak ini dianggap 'ringan' dan 'manis' karena gravitasinya yang tinggi dan kandungan sulfurnya yang rendah, sehingga lebih mudah dimurnikan menjadi bensin dan produk bernilai tinggi lainnya. Minyak Mentah Brent berfungsi sebagai harga referensi untuk sekitar dua pertiga dari pasokan minyak yang diperdagangkan secara internasional di dunia. Popularitasnya bergantung pada ketersediaan dan stabilitasnya: wilayah Laut Utara memiliki infrastruktur yang mapan untuk produksi dan transportasi Minyak, yang menjamin pasokan yang andal dan konsisten.

Seperti semua aset, penawaran dan permintaan merupakan pendorong utama harga Minyak Mentah Brent. Dengan demikian, pertumbuhan global dapat menjadi pendorong peningkatan permintaan dan sebaliknya untuk pertumbuhan global yang lemah. Ketidakstabilan politik, perang, dan sanksi dapat mengganggu pasokan dan memengaruhi harga. Keputusan OPEC, sekelompok negara penghasil minyak utama, merupakan pendorong utama harga lainnya. Nilai Dolar AS memengaruhi harga Minyak Mentah Brent, karena Minyak sebagian besar diperdagangkan dalam Dolar AS, sehingga Dolar AS yang lebih lemah dapat membuat Minyak lebih terjangkau dan sebaliknya.

Laporan inventaris minyak mingguan yang diterbitkan oleh American Petroleum Institute (API) dan Energy Information Agency (EIA) memengaruhi harga minyak WTI. Perubahan inventaris mencerminkan fluktuasi pasokan dan permintaan. Jika data menunjukkan penurunan inventaris, ini dapat mengindikasikan peningkatan permintaan, yang mendorong harga minyak naik. Inventaris yang lebih tinggi dapat mencerminkan peningkatan pasokan, yang mendorong harga turun. Laporan API diterbitkan setiap hari Selasa dan EIA pada hari berikutnya. Hasilnya biasanya serupa, dengan selisih 1% satu sama lain selama 75% waktu. Data EIA dianggap lebih dapat diandalkan, karena merupakan lembaga pemerintah. Hasilnya biasanya serupa, dengan selisih 1% dari satu sama lain selama 75% waktu. Data EIA dianggap lebih dapat diandalkan, karena merupakan lembaga pemerintah.

OPEC (Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak) adalah kelompok yang terdiri dari 12 negara penghasil minyak yang secara kolektif memutuskan kuota produksi untuk negara-negara anggota dalam pertemuan dua kali setahun. Keputusan mereka sering kali memengaruhi harga minyak mentah Brent. Ketika OPEC memutuskan untuk menurunkan kuota, pasokan dapat diperketat, sehingga harga minyak naik. Ketika OPEC meningkatkan produksi, efeknya justru sebaliknya. OPEC+ merujuk pada kelompok yang diperluas yang mencakup sepuluh anggota non-OPEC tambahan, yang paling menonjol adalah Rusia.

Valas Hari Ini: Dolar AS Menguat Tipis, Para Pedagang Bersiap untuk Rilis IMP AS

Berikut adalah yang perlu Anda ketahui pada hari Kamis, 23 April
আরও পড়ুন Previous

JPY: Guncangan energi membebani prospek – MUFG

Analis Senior Mata Uang MUFG Lloyd Chan menyoroti bahwa Yen Jepang (JPY) mungkin akan melemah lebih lanjut karena kejutan energi dari ketegangan Timur Tengah yang berlanjut dan pasar menunda ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ) hingga Juni
আরও পড়ুন Next